19, 20, 21

Ia masuk tertatih, dengan kacamata dan rambut memutih diikat kebelakang. Jas biru tuanya mengingatkanku pada orang administrasi di SMUku dulu.Orang disebelahku mempersilahkannya duduk, “terimakasih”, ujarnya sambil tersenyum, tangan kirinya memegang kantung plastik,tangan kanannya memegang sebuah buku yang sudah tampak kumal.

Aku duduk santai disebelahnya sembari menikmati ibukota yang makin macet, kadang bersorak kegirangan ketika bus melaju di jalurnya, kosong tidak terganggu, sementara lalu lintas disebelah jalur itu padat, hampir tak bergeming.

Mataku melalang kekiri dan kanan. Oh ibu itu sedang membaca buku, “Mazmur” subheadline itu terbaca olehku, diikuti angka 19, 20, 21. Ia duduk tenang terpekur, kadang terbatuk-batuk.

Lampu merah perempatan kuningan memang keterlaluan, tak seberapa lama, ia kembali menombak bus kami dengan mata merahnya.
Supir menjadi gusar, suara letusan terdengar, semua sontak kaget, “angin hidrolik sialan” aku bergumam dalam hatiku.

Ibu itu tetap tenang menbaca mazmurnya, halaman 21,22 sekarang. Halte Tegal Parang, kakiku melangkah keluar bis, Ibu itu masih terpekur membaca Mazmurnya.

-sepanjang jalur bus way benhil-tegal parang, maret 2011
________
widarto adi
http://www.darto.photoshelter.com

This entry was published on 08/03/2011 at 7:00 am and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: