Rp.257.000,-

Pagi entah kenapa saya melangkahkan kaki ke warung mie instant petak disamping jalan di sebuah gang kecil di mampang. Mengapa saya ada disitu, tak lepas karena saya mesti mengantarkan album pesanan ke klient saya.

Penjaga warung seorang ibu-ibu, mungkin kisaran 38tahunan, sembari mengerjakan pesanan saya, dia bercerita, “yah beginilah mas, kalau lagi jatuh, jadi bangkitnya pelan-pelan”, rupanya ia merespon pertanyaan saya yang menanyakan ada tehbotol atau tidak.

Rupanya ia tidak menyediakan, karena belum men-stock, sebagai gantinya saya minta teh seduh tawar.
Saya bertanya, jatuh bagaimana bu ? Ia tidak langsung menjawab, tapi ia berujar, “keluarga lagi ada yang sakit”, siapa bu ? Tanya saya lagi, “suami, kena stroke, ini udah bolak-balik ke rumah sakit, untung dokternya mau ngerti,”ujarnya lembut.

Rupanya suami si ibu ini seorang satpam, dia sering mengeluh lemas tidak ada daya,si ibu bilang karena mereka tidak begitu tahu, dianggapnya hanya karena masuk angin, dibawa kedokter lalu diberi obat dan sembuh. Dalam hitungan bulan, gejala yang sama terulang.
“Tekanan darahnya 180/220, tinggi banget, udah gitu dia juga ada gula”. “Mungkin karena jarang olah raga, jadi satpam duduk doang, buah ya yg murah-murah aja, pepaya dan sebangsanya”, kata ibu lagi.

Anak-anak gimana bu ? Tanya saya lagi. “Anak-anak sekolah, tapi yang paling gede kayanya putus ni, dia baru lima bulan kelas 1 SMA”. “Biaya bulanannya Rp.257,000,-, tapi ibu udah nunggak 5 bulan, untung anaknya mau ngerti”. Si ibu melanjutkan “Nanti katanya kalau sudah ada biaya, tahun depan mau ikut ujian masuk lagi, sapa tahu dapat yg lebih murah”.

“Sekolah mah untuk orang kaya kan ya ?” Ujar ibu itu sambil tersenyum, saya cuma bisa nyengir pahit, mendengar komentar si ibu.

Pahit betul bangsa ini, lepas zaman kolonialisasi, dimana cuma anak bangsawan yg bisa sekolah, selepas merdeka, cuma anak petinggi yg bisa sekolah tanpa harus khawatir putus sekolah karena biaya.

Saya selesaikan makanan saya, lalu saya lebihkan pembayaran makananny , si ibu menolak, “eh nggak boleh atuh, ini ada kembaliannya” ~ reaksi yang saya takuti, saya takut si ibu tersinggung.”Tidak apa-apa bu, untuk bantu-bantu, nambahin rejeki” ujar saya. “Terimakasih ya” kata si ibu sambil berdoa mengucap syukur. “Amin bu” ~ Alhamdulillah dia mau menerima.

Dalam hati saya berdoa, semoga Tuhan mendengar percakapan kami pagi ini, si ibu dan saya, lalu mampu mengetuk nurani para pengurus pendidikan negeri ini, kalau diketuk tidak ada reaksi, mungkin perlu diketuk supaya pindah jabatan saja, Amin.

________
widarto adi
http://www.darto.photoshelter.com

This entry was published on 08/06/2011 at 12:53 am and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: